Menjadi Kaya Raya dengan ICO, Apa Itu? Simak Informasinya

Berharap kencang kaya? Berharap bisa uang jutaan dollar dengan kencang tanpa sulit payah berprofesi bertahun-tahun? Rasanya segala pembaca akan mengiyakan dan bila kita mengamati popularitas dunia dunia maya dikala ini, rasanya banyak metode gampang untuk jadi kaya dengan kencang. Bukan saja menjadi seniman selebgram atau youtuber, tetapi juga dengan memasarkan inspirasi bisnis menerbitkan ICO, Initial Coin Offering. Benarkah?

Pernah dengar block.one? Ide-baru mereka ini sukses menerima dana sebesar USD 4 miliar atau sekitar Rp 60 triliun tanpa produk kongkrit via ICO. Silakan googling atau cek di sini sekiranya tak percaya. Apa yang ia jual Cryptocurrency dengan nama EOS yang menjanjikan kecakapan pemrosesan jutaan transaksi setiap detik.

Apakah ICO sama dengan IPO (Initial Public Offering)? Beda. Berdasarkan FINMA, ICO yakni wujud pengumpulan dana publik secara komputerisasi berbasis Blockchain yang dipakai startup untuk menerima modal dengan metode memasarkan token, sementara IPO yakni wujud pengumpulan dana publik bagi perusahaan mapan yang hendak memaksimalkan usahanya via penawaran saham.

Baca Juga: Menjadi billionaire dengan bitcoin indonesia

Token yang ditawarkan ICO dikelompokkan oleh FINMA ke dalam tiga macam, ialah payment token, utility token, dan asset token. Payment token yang berkembang sebagai cryptocurrency menerima pengawasan ketat untuk menjamin aturan anti pencucian uang.

Utility token ditujukan untuk memberikan jalan masuk komputerisasi ke aplikasi atau layanan, seperti koin dingdong. Asset token mewakili aset kongkret seperti partisipasi dalam wujud jasmani, perusahaan, aliran penghasilan, hak atas dividen atau pembayaran bunga.

Sebagai catatan, ICO sebagai wujud pengumpulan dana publik belum menerima kejelasan aturan dari OJK sebab yang ditawarkan ke publik bukan saham tetapi produk komputerisasi dalam wujud token. Poin token bisa berkembang tergantung figur bisnis dan penerimaan pasar yang dapat jadi dianggap sebagai wujud investasi.

Payment token sendiri diperlakukan seperti uang asing oleh BI (bisa dimiliki tetapi dilarang untuk transaksi di Indonesia), tetapi BAPEBBTI sudah mengakuinya sebagai komoditi berjangka untuk titik dan future transaction.

Kunci berhasil ICO yakni figur bisnis yang memberikan solusi kongkret, pasar yang besar, kejelasan perencanaan, dan orang-orang di belakang perusahaan hal yang demikian. Contoh bisnis dituangkan di dalam whitepaper yang menerangkan bagaimana token memberikan poin tambah terhadap penggunanya.

Teladan menjadi tantangan yakni berfikir revolusioner untuk para pelaku startup sehingga menemukan suatu figur bisnis yang ideal sebagai solusi suatu persoalan dan kemudian menyusun pasar.

Teladan ICO yang menarik seperti Rentberry dengan figur bisnis sewa properti dengan pembayaran dalam wujud token BERRY dan menghilangkan tarif intermediary dalam wujud jasa bank dan agen pemasaran.

Teladan lainnya yakni WePower, platform green energy trading sebagai komponen smartgrid seperti yang dikemukakan Eddie Widiono dari PJCI dalam sesi Critical Information Infrastructure Protection di Indonesia Cyber Security Summit (ICSS) Bali.

Hakekatnya banyak ICO terbukti scam? Walaupun sama saat startup di dunia kongkret menjaring pemodal, ada yang berhasil bisnisnya ada pula yang gagal.

Bedanya, sebab ICO terjadi di dunia maya yang tak diregulasi secara ketat, lebih sulit untuk mengejar penerbitnya sehingga banyak yang memakai ICO sebagai modus pembohongan/scam.

Ada sebagian ICO yang sungguh-sungguh berhasil sebab figur bisnisnya kuat dan orang di belakangnya memang sudah memiliki reputasi. Ethereum (dikala itu belum diketahui istilah ICO), Filecoin, Neo, Augur, Steemit, yakni sebagian model ICO yang sungguh-sungguh berhasil: penjualan tokennya laku keras dan saat diperdagangkan di exchange harganya berkembang beratus-ratus kali lipat.

Sebagian demikian, banyak kasus dimana ICO yang laku keras kemudian terbukti penerbitnya sirna demikian itu saja, meninggalkan pemodal dan membawa lari jutaan dolar Amerika (model: Pincoin). Ada juga ICO yang sesudah berhasil mendulang dana, token yang diperjualbelikan harganya turun jauh di pasaran.

Secara awam berikut langkah-langkah penerbitan ICO:

1. Penyusunan regu dengan reputasi yang telah diketahui di dunia cyptocurrency

2. Membangun whitepaper yang meyakinkan

3. Memilih platform Blockchain yang cocok dengan figur bisnis secara khusus berhubungan dengan konsensus dan konsep mining

4. Membangun channel marketing serta media sosial untuk berkomunikasi dengan calon pemodal

5. Memutuskan pendirian perusahaan di kawasan negara yang membiarkan ICO atau minimal telah mempunyai aturan mengenai investasi cryptocurrency

 

Platform Blockchain yang familiar digunakan untuk ICO dan menerbitkan cryptocurrency baru yakni jenis public permissionless untuk menarik sebanyak- banyaknya pemodal bagus sebagai miner, trader, market place, maupun currency exchanger. Di dalam tulisan ini cuma akan dibahas sebagian ialah: Ethereum, Neo, dan Stellar.

 

Baca Juga: ico news terupdate di Indonesia

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *